Salah satu pekerjaan paling sulit bagi saya adalah menulis kalimat perpisahan. Meski saya bukan orang yang sentimentil, perpisahan bagi saya adalah momen yang ganjil. Kalau tidak mau disebut menyedihkan.
Saya masih ingat, pada suatu siang di awal Januari 2026. Kali pertama saya menginjakkan kaki di sekolah ini. Terlalu surrealis. Sulit untuk diungkapkan. Mungkin perasaan ini yang dirasa McCandles di film Into the Wild.
Terus terang, catatan ini lahir setelah saya menyaksikan film itu di kanal Netflix. Film yang disutradarai Sean Penn itu mengisahkan seorang anak muda yang bernama McCandles tadi. Ia berasal dari keluarga kaya raya dan dianugerahi otak jenius tapi memilih menghabiskan masa hidupnya untuk melakukan perjalanan hebat di Alaska dan lalu menutup hidupnya di dalam sunyi.
Kilas balik kebersamaan awal tahun ajaran.
|
Momen-momen berharga di sudut sekolah.
|
Bukan. Saya bukan berharap kalian meniru seperti dia. Tapi satu hal yang ingin saya pesankan pada kalian terilhami kisah: hiduplah dengan berani. Keberanian itu nanti akan membawa kalian bertaruh dengan garis nasib.
Dalam dua bulan ke depan (tulisan ini dibuat pada Mei 2026), mungkin kalian akan masuk ke masa-masa paling riuh dalam kehidupan kalian. Kalian akan memasuki masa sekolah atas. Entah SMA atau SMK, apapun pilihan kalian. Kata banyak orang, masa SMA adalah masa paling sulit dilupakan. Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Begitu lirik lagu legend-nya Chrisye.
Saya pun demikian. Hingga saat saya menulis ini, saya masih kontak-kontakkan dengan teman-teman SMA saya. Ketika saya pulang ke rumah asli saya, hal paling rutin yang saya lakukan adalah bertemu dengan teman-teman SMA saya. Dan, mungkin kalian tidak percaya, dalam satu bulan, saya setidaknya satu kali bermimpi masih mengenakan seragam SMA saya dan melakukan aktivitas layaknya anak sekolah.
Kalian, saya yakin, akan mengalaminya juga. Kalian akan menemui masa yang hebat. Masa yang begitu membekas di hidup panjang kalian. Kalian akan menemukan sahabat-sahabat yang tinggal lama di hidup kalian. Kalian akan bertemu guru-guru yang diam-diam membentuk cara berpikir kalian. Kalian akan jatuh, bangkit, kecewa, berhasil, lalu tumbuh dengan cara yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Kalian akan memasuki fase hidup yang menggelora.
Tawa dan canda yang akan dirindukan di koridor.
|
Langkah awal menuju masa depan yang gemilang.
|
Saat kalian merasakan itu semua kelak, saya dan Bapak Ibu Guru di sekolah yang telah kalian lalui selama 3 tahun ini akan ikut berbesar hati untuk kalian. Kami akan ceritakan hal-hal hebat tentang kalian. Kami akan menceritakan hal-hal baik tentang kalian.
Meski demikian, izinkan saya untuk menuliskan satu lagi harapan: pulanglah ke sekolah ini. Kapanpun itu. Sapalah kami. Dimanapun itu. Ceritakan hidup kalian. Ceritakan mimpi-mimpi kalian. Ceritakan sejauh apa kalian melangkah.
Pada satu hari nanti, menjadi seperti apapun, di depan siapapun itu, kami semua akan menyebut kalian dengan perasaan yang penuh, “Anak-anak ini adalah murid-murid hebatku,”
Dalam khazanah Bahasa Indonesia, tidak pernah dikenal predikat mantan untuk dua relasional: orang tua-anak dan guru-murid. Tidak pernah ada mantan orang tua untuk seorang anak. Tidak pernah ada mantan anak untuk kedua orang tua. Pun demikian. Tidak pernah ada mantan guru untuk seorang murid. Tidak pernah ada mantan murid untuk seorang guru. Sampai kapanpun itu, kalian adalah murid-murid kami.
Saya dan Bapak Ibu Guru Spegiga tidak punya prajurit, tentu saja. Kami hanya punya kalian, anak-anak didik kami. Kami membentuk. Kami menatah. Kami menghias. Semuanya berlangsung setiap hari. Setiap malam. Selama 3 tahun.
Di satu pagi selepas kalian tidak lagi di sekolah ini, kami semua kehilangan. Kami akan merindukan kalian. Kami akan rindu suara kalian di lorong-lorong ini. Candaan kalian. Keributan kecil kalian. Salam kalian setiap pagi.
Saat saya pulang ke rumah nanti, ada satu cerita yang akan saya tuturkan ke ibu saya dan teman-teman saya, bahwa saya pernah mendidik anak-anak hebat.
Angkatan 2026!
